Mbappe Dapat Anggapan Malas Lari di Real Madrid

Mbappe Dapat Anggapan Malas Lari di Real Madrid
indocair

Mbappe Dapat Anggapan Malas Lari di Real Madrid. Tylian Mbappe kembali menjadi sorotan tajam terkait etos kerjanya di Real Madrid. Statistik lari sang bintang dianggap sangat rendah dibandingkan rekan setimnya.

Kritik pedas terus mengalir deras terutama soal kontribusi bertahan sang pemain. Namun, pembelaan datang dari pelatih Timnas Prancis, Didier Deschamps.

Deschamps memberikan jawaban menohok kepada para pengkritik Mbappe. Ia menegaskan bahwa sang striker punya gaya main yang unik dan tak bisa diubah.

Memaksa Mbappe berlari sepanjang laga dianggap sia-sia belaka oleh Deschamps. Ia bukan tipe pemain yang akan menjelajah setiap jengkal lapangan.

Sia-sia Paksa Mbappe Lari

Deschamps mengakui secara terbuka bahwa Mbappe memang bukan tipe penjelajah. Meminta hal tersebut hanyalah pekerjaan yang membuang-buang waktu bagi pelatih manapun.

Ia menilai karakteristik Mbappe tidak bisa disamakan dengan gelandang pengangkut air. Sang pemain memiliki cara sendiri untuk berkontribusi bagi timnya.

“Saya pikir tidak seperti itu, meski beberapa orang berlari lebih sedikit dari yang lain,” buka Didier Deschamps dikutip dari Cadena SER.

“Jika Anda ingin dia berlari minimal 11 km per pertandingan, jangan repot-repot karena dia tidak akan melakukannya,” tegasnya.

Cap Egois yang Keliru

Publik sering melabeli eks bintang PSG itu sebagai sosok yang egois di lapangan. Sifat individualistis memang kerap melekat pada seorang penyerang tajam.

Namun, Deschamps menjamin sikap Mbappe di ruang ganti sangat berbeda. Ia tetaplah pemimpin sejati bagi skuad Les Bleus di berbagai ajang.

“Kylian, suka atau tidak, anak-anak muda mencintainya. Anda memiliki gambaran tentang orang yang egois dan individualistis,” lanjut Deschamps.

“Memang benar seorang striker juga harus egois, tapi saya jamin dalam fungsi timnas Prancis, dia berperilaku layaknya kapten,” tambahnya.

Ketidakpastian Pasca Benzema

Musim 2023/2024 menjadi bukti nyata masalah ini. Meskipun Vinícius Júnior berhasil mengonversi ketiga penaltinya, pemain lain seperti Joselu hanya mencetak satu dari tiga kesempatan. Luka Modrić dan Rodrygo juga tercatat gagal dalam eksekusi penalti mereka. Jude Bellingham memang berhasil mencetak satu gol dari penaltinya, namun secara keseluruhan, tingkat konversi penalti Real Madrid hanya berkisar di angka 55% yang tidak memuaskan.

Mbappe Dapat Anggapan Malas Lari di Real Madrid
indocair

Peran Awal Mbappe

Kedatangan Mbappe pada tahun 2024 awalnya diharapkan membawa otoritas baru, namun hierarki penendang penalti belum langsung terbentuk secara pasti. Pada musim pertamanya, Mbappe mengambil mayoritas penalti, mencetak tujuh dari sepuluh percobaan. Vinícius mencetak empat dari enam, sementara Bellingham satu dari dua.

Kini, Mbappe telah mencetak 12 dari 13 penalti yang dieksekusinya untuk Real Madrid, dengan tingkat keberhasilan lebih dari 92%. Satu-satunya kegagalannya terjadi dalam laga El Clásico, yang ironisnya tetap dimenangkan oleh Madrid.

Sebagai perbandingan, Vinícius Júnior hanya mencetak satu gol dari dua percobaan penalti, sementara Federico Valverde gagal dalam satu-satunya kesempatan penalti yang diambilnya di Piala Dunia Antarklub melawan Al Hilal.

Meskipun demikian, peran Mbappe dalam mengatasi masalah penalti yang menjadi warisan dari era pasca Benzema tidak dapat diremehkan. Ia telah memberikan ketenangan dan jaminan gol dari titik putih, sebuah aspek krusial yang sempat membuat Real Madrid gamang.

Baca juga : Segini Harga untuk Meraih Cole Palmer untuk MU

Segalanya Effort Benfica

“Anda bisa melihat bahwa segalanya dipertaruhkan bagi Benfica. Anda tidak bisa melihat itu pada kami. Itu adalah masalah.”

“Sebelum pertandingan, kedua tim memiliki sesuatu untuk diperjuangkan. Kami berada di delapan besar dan Benfica berada di antara 24 tim. Kami melihatnya dari Benfica, tetapi Anda tidak melihatnya dari kami,” kata Mbappe.

Real Madrid telah mengalami musim yang bergejolak, dengan Manajer Xabi Alonso kehilangan pekerjaannya awal bulan ini, tetapi tampaknya mulai membaik di bawah Alvaro Arbeloa dalam beberapa pekan terakhir, termasuk kemenangan 2-0 di kandang Villarreal di LaLiga akhir pekan lalu.

Namun, kekalahan dari Benfica membuat kursi Arbeloa dipertanyakan lagi dan mendorong Real Madrid harus mencari pelatih bernama besar kembali.

“Saya tidak punya penjelasan yang jelas. Permainan kami (di kandang Benfica) tidak sama seperti saat melawan Villarreal. Itu adalah masalah. Tidak konsisten dalam permainan kami. Kami harus menyelesaikan masalah itu.”

“Kami tidak bisa melakukannya satu hari, lalu tidak pada hari berikutnya. Tim juara tidak akan melakukan itu. Kami masih punya dua pertandingan lagi (di playoff Liga Champions).” Ayo menangkan indocair link gaming online terbaik saat ini!

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *